Rektor UMC: Ramadhan 1445 H sebagai Momentum Transformasi Keunggulan Spiritual dan Sosial Sivitas Akademika
Rektor Universitas Muhammadiyah Cirebon (UMC), Prof. Dr. H. Arif Nurudin, M.T., bersama jajaran pimpinan dan seluruh sivitas akademika menyampaikan ucapan selamat menunaikan ibadah puasa Ramadan 1445 H kepada seluruh umat Islam. Ia menegaskan bahwa bulan suci Ramadan merupakan momentum penting untuk melakukan transformasi keunggulan, baik dalam hubungan manusia dengan Allah (habluminallah) maupun hubungan antarsesama manusia (habluminannas).
Menurutnya, dalam konteks habluminallah, manusia dituntut untuk senantiasa menjadikan Allah SWT sebagai tujuan utama dalam kehidupan dengan mengharapkan ridha-Nya serta menjadikan surga sebagai cita-cita. Kesuksesan dunia dan akhirat, lanjutnya, hanya dapat diraih dengan memperkuat kedekatan kepada Allah SWT dan menjalankan perintah-Nya secara konsisten.
Sementara dalam aspek habluminannas, manusia tidak hanya dituntut untuk memperbaiki hubungan dengan Tuhan, tetapi juga harus berbuat baik kepada sesama manusia, bahkan kepada makhluk lain dan lingkungan sekitar. Ia menekankan bahwa kesalehan spiritual harus diiringi dengan kesalehan sosial agar tercipta keseimbangan dalam kehidupan. Oleh karena itu, Ramadan menjadi momentum yang tepat untuk meningkatkan keimanan, memperbaiki diri, serta meraih keberkahan dan ampunan Allah SWT.
Dalam pengajian Qobla Ramadan keluarga besar UMC, Rektor juga mengutip Surah Al-Baqarah ayat 183 yang menjelaskan kewajiban berpuasa bagi orang-orang beriman sebagai jalan untuk mencapai ketakwaan. Ia mengajak seluruh sivitas akademika untuk menyambut Ramadan dengan penuh kegembiraan dan menjadikannya sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa aktivitas keagamaan di lingkungan kampus selama Ramadan seperti salat berjamaah, tadarus Al-Qur’an, dan kegiatan spiritual lainnya harus dimaknai sebagai bagian dari pembentukan karakter dan penguatan nilai-nilai keislaman di lingkungan akademik.
Wakil Rektor I UMC, Nana Trisovelna, M.T., menambahkan bahwa pelaksanaan ibadah puasa tidak boleh dipahami secara formalitas atau seremonial semata, melainkan harus diwujudkan dalam bentuk pengendalian diri yang lahir dari kesadaran internal. Menurutnya, esensi puasa adalah kemampuan menahan diri dari segala bentuk perilaku yang tidak baik, baik dalam ucapan maupun perbuatan, meskipun tidak ada pengawasan dari luar.
Ia menekankan bahwa puasa merupakan bentuk latihan spiritual untuk membangun integritas dan kesadaran diri, di mana seseorang tetap berbuat baik karena kesadaran bahwa setiap tindakan diawasi oleh Allah SWT. Konsep ini sejalan dengan makna puasa sebagai perisai (junnah) yang melindungi manusia dari perbuatan tercela.
Sementara itu, Wakil Rektor II UMC, Dr. Badawi, menyoroti pentingnya disiplin dalam menjalankan ibadah puasa yang juga dapat berdampak pada peningkatan etos kerja dan profesionalisme. Ia menjelaskan bahwa aturan waktu dalam berpuasa, seperti sahur dan berbuka, melatih kedisiplinan, manajemen waktu, serta pola hidup yang lebih teratur.
Menurutnya, nilai-nilai yang terkandung dalam ibadah puasa seperti kesabaran, ketekunan, tanggung jawab, kejujuran, dan kemandirian dapat membentuk karakter positif yang sangat dibutuhkan dalam dunia kerja, khususnya dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia di lingkungan kampus.
Wakil Rektor III UMC, Dr. Wiwi Hartati, menambahkan bahwa Ramadan juga menjadi momentum untuk meningkatkan kesadaran sosial dan empati terhadap sesama, khususnya mereka yang kurang beruntung. Kegiatan ibadah seperti tarawih, sahur, dan buka puasa bersama dapat memperkuat solidaritas sosial serta menumbuhkan rasa kepedulian antarumat.
Ia juga mengingatkan pentingnya kepedulian terhadap berbagai peristiwa kemanusiaan dan bencana yang terjadi, baik di tingkat nasional maupun global. Menurutnya, Ramadan harus menjadi sarana untuk meningkatkan rasa empati dan kepedulian sosial sehingga terbentuk pribadi yang tidak hanya baik secara spiritual, tetapi juga bermanfaat bagi masyarakat luas.