UMC Lestarikan Tradisi Kultum Ramadan untuk Perkuat Nilai Spiritual dan Kebersamaan Civitas Akademika
Universitas Muhammadiyah Cirebon (UMC) terus mempertahankan tradisi kuliah tujuh menit (kultum) setelah salat Zuhur sebagai bagian dari syiar Ramadan 1445 Hijriah. Kegiatan yang diikuti secara bergantian oleh dosen dan tenaga kependidikan ini menjadi wadah untuk berbagi nasihat, memperdalam pemahaman keislaman, serta memperkuat nilai-nilai spiritual di lingkungan kampus.
Rektor UMC, Prof. Dr. H. Arif Nurudin, M.T., menjelaskan bahwa tradisi kultum telah lama menjadi bagian dari budaya akademik UMC. Menurutnya, kegiatan tersebut sejalan dengan semangat kampus yang mengusung nilai Islami, Profesional, Unggul, dan Mandiri, di mana saling mengingatkan dalam kebaikan merupakan implementasi nyata dari karakter yang ingin dibangun di lingkungan universitas.
Ia menyampaikan bahwa Ramadan merupakan momentum yang tepat bagi seluruh sivitas akademika untuk berlomba-lomba menyampaikan pesan-pesan kebaikan, memperkuat keimanan, sekaligus mengingatkan sesama muslim agar senantiasa meningkatkan kualitas ibadah dan akhlak.
Dalam kultumnya, Prof. Arif mengingatkan pentingnya keseimbangan antara menyampaikan nasihat dan kesediaan menerima masukan dari orang lain. Ia mengibaratkan manusia diciptakan dengan satu mulut dan dua telinga sebagai pengingat agar lebih banyak mendengarkan daripada berbicara. Menurutnya, seseorang hendaknya tidak melihat siapa yang memberikan nasihat, melainkan lebih mengutamakan nilai dan manfaat dari pesan yang disampaikan.
Ia juga mengutip sejumlah ayat Al-Qur’an yang menegaskan pentingnya saling menasihati dalam kebaikan, di antaranya Surah Al-Baqarah ayat 132, Surah Az-Zukhruf ayat 28, serta Surah Al-‘Ashr ayat 1–3. Ayat-ayat tersebut mengajarkan pentingnya menjaga keimanan, mengajak kepada kebenaran, dan saling menguatkan dalam kesabaran sebagai bekal menjalani kehidupan.
Lebih lanjut, Prof. Arif mengajak seluruh sivitas akademika memanfaatkan sisa bulan Ramadan dengan meningkatkan amal ibadah. Ia mengibaratkan perjalanan Ramadan seperti mendaki sebuah gunung yang terdiri atas tiga fase. Pada tahap awal dibutuhkan semangat dan perjuangan, fase pertengahan dipenuhi berbagai tantangan, sedangkan fase terakhir menjadi ujian terberat. Namun, menurutnya, justru pada penghujung Ramadan terdapat kesempatan untuk meraih puncak ketakwaan dan keberkahan yang lebih besar.
Dalam kesempatan tersebut, ia juga mengingatkan bahwa saat itu umat Islam telah memasuki hari ke-18 Ramadan, yang diyakini memiliki berbagai keutamaan. Oleh karena itu, ia mengajak seluruh jamaah untuk memperbanyak doa, memohon ampunan kepada Allah SWT, serta terus meningkatkan kualitas ibadah hingga akhir bulan suci.
Menutup kultumnya, Prof. Arif berharap seluruh ikhtiar yang dilakukan selama Ramadan mendapat ridha dan pahala dari Allah SWT. Ia juga mengundang masyarakat untuk bersama-sama memakmurkan masjid di lingkungan UMC, baik yang berada di Kampus 1 Jalan Tuparev maupun Kampus 2 Jalan Watu Belah, Sumber, sebagai pusat kegiatan ibadah dan syiar Islam selama bulan Ramadan.