KKM 23 UMC Ubah Ampas Kopi Jadi Pupuk Organik di Desa Gunungwangi
Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Cirebon (UMC) yang tergabung dalam Kelompok Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) 23 di Desa Gunungwangi, Kecamatan Argapura, Kabupaten Majalengka, menghadirkan inovasi pemanfaatan limbah ampas kopi menjadi pupuk organik yang bernilai guna bagi sektor pertanian.
Program ini dilaksanakan pada Kamis (4/9/2025) dengan pendampingan Dosen Pendamping Lapangan (DPL) UMC, Sylvani, MM. Kegiatan ini menjadi bentuk nyata kontribusi mahasiswa dalam mengolah potensi lokal sekaligus menjawab permasalahan limbah yang selama ini belum termanfaatkan secara optimal di wilayah sentra kopi tersebut.
DPL Sylvani menegaskan bahwa kegiatan KKM ini tidak hanya sebatas pemenuhan kewajiban akademik, tetapi juga wujud pengabdian nyata kepada masyarakat. Menurutnya, inovasi pengolahan limbah kopi menjadi pupuk organik menunjukkan bahwa mahasiswa mampu menghadirkan solusi aplikatif yang berdampak langsung bagi masyarakat desa.
Gunungwangi sebagai salah satu sentra produksi kopi di Majalengka menghasilkan limbah kulit biji kopi dalam jumlah besar setiap musim panen. Melalui program ini, limbah tersebut diolah menjadi pupuk organik yang lebih ramah lingkungan, ekonomis, dan mampu memperbaiki kualitas tanah pertanian.
Dalam pelaksanaannya, mahasiswa tidak hanya memberikan sosialisasi, tetapi juga melakukan pendampingan praktik langsung kepada warga. Hal ini bertujuan agar masyarakat dapat memahami proses pembuatan pupuk secara menyeluruh dan mampu memproduksinya secara mandiri setelah program KKM berakhir.
Masyarakat setempat menyambut positif inovasi tersebut. Para petani menilai bahwa pupuk organik dari limbah kopi dapat menjadi alternatif yang lebih murah dibandingkan pupuk kimia, sekaligus membantu meningkatkan kesuburan lahan pertanian secara berkelanjutan.
Melalui kegiatan ini, KKM UMC 23 menunjukkan bahwa pengelolaan limbah berbasis inovasi dapat memberikan dampak ekonomi dan lingkungan sekaligus memperkuat potensi UMKM desa berbasis komoditas lokal. Program ini diharapkan dapat terus berlanjut dan menjadi model pengembangan pertanian berkelanjutan di wilayah lain.