Muhammadiyah University of Cirebon

Ketua PP Muhammadiyah: Sivitas UMC Patut Bangga Menjadi Bagian dari Amal Usaha Muhammadiyah

Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Dr. Muhammad Saad Ibrahim, menyampaikan bahwa lembaga pendidikan yang dikelola Muhammadiyah merupakan salah satu sistem pendidikan Islam terbaik di dunia. Oleh karena itu, seluruh sivitas akademika Universitas Muhammadiyah Cirebon (UMC) dinilai patut berbangga karena menjadi bagian dari Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) yang telah memberikan kontribusi besar bagi kemajuan pendidikan, kesehatan, dan pemberdayaan masyarakat.

Pernyataan tersebut disampaikan saat memberikan materi dalam kegiatan Pembinaan Dosen dan Tenaga Kependidikan UMC yang berlangsung di Masjid Raya UMC. Dalam kesempatan itu, ia mengapresiasi kepemimpinan Rektor UMC, Prof. Dr. H. Arif Nurudin, M.T., beserta jajaran wakil rektor, dekan, ketua program studi, Badan Pembina Harian (BPH), Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Barat, serta seluruh sivitas akademika yang terus berkomitmen mengembangkan UMC sebagai perguruan tinggi unggul.

Menurut Saad, keberhasilan Muhammadiyah tidak dapat dipisahkan dari pemikiran visioner pendirinya, KH. Ahmad Dahlan, yang menjadikan Surah Al-Ma’un sebagai landasan gerakan dakwah dan pelayanan sosial. Nilai-nilai yang terkandung dalam surah tersebut kemudian diwujudkan melalui pendirian berbagai amal usaha di bidang pendidikan, kesehatan, sosial, dan ekonomi yang hingga kini terus berkembang di berbagai wilayah Indonesia maupun mancanegara.

Ia menjelaskan bahwa Muhammadiyah telah membangun ratusan sekolah, perguruan tinggi, rumah sakit, klinik, panti asuhan, pesantren, hingga unit-unit usaha yang berperan dalam meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat. Keberadaan amal usaha tersebut menunjukkan komitmen Muhammadiyah dalam menjalankan misi dakwah sekaligus memberikan solusi nyata bagi berbagai persoalan bangsa.

Saad juga mengutip pandangan akademisi asal Amerika Serikat, Robert W. Hefner, yang menilai bahwa sistem pendidikan Islam Muhammadiyah merupakan salah satu yang terbaik. Menurutnya, perkembangan Amal Usaha Muhammadiyah yang telah menjangkau sejumlah negara, seperti Australia, Malaysia, dan Mesir, menjadi bukti bahwa model pendidikan Muhammadiyah mampu diterima dan berkembang di tingkat internasional.

Selain menyoroti kiprah pendidikan, Saad menjelaskan bahwa keberhasilan Muhammadiyah juga didukung oleh tata kelola organisasi dan pengelolaan keuangan yang berlandaskan empat prinsip utama, yaitu efisiensi, resiliensi, keberlanjutan, dan digitalisasi. Prinsip-prinsip tersebut diterapkan secara konsisten mulai dari tingkat pusat hingga seluruh struktur persyarikatan sehingga mampu menjaga keberlangsungan organisasi dalam jangka panjang.

Ia menambahkan bahwa Muhammadiyah selama lebih dari satu abad telah berkontribusi dalam mencerdaskan kehidupan bangsa melalui jaringan sekitar 170 perguruan tinggi, ratusan rumah sakit, sekolah, pesantren, panti asuhan, serta berbagai lembaga sosial dan ekonomi. Menurutnya, seluruh amal usaha tersebut merupakan wujud nyata pengabdian Muhammadiyah bagi umat dan bangsa.

Dalam bidang organisasi, Saad menilai sistem pemilihan pimpinan Muhammadiyah menjadi contoh praktik demokrasi yang sehat karena dilakukan secara bertahap melalui mekanisme musyawarah yang transparan. Proses tersebut dinilai mampu menghindarkan organisasi dari polarisasi, praktik politik transaksional, maupun intervensi pihak luar sehingga menghasilkan kepemimpinan yang kuat dan berorientasi pada kemaslahatan bersama.

Ia juga mengajak seluruh warga Muhammadiyah untuk memanfaatkan waktu secara produktif dengan mengacu pada filosofi perjalanan kehidupan yang diibaratkan melalui fase waktu dalam sehari. Masa muda diisi dengan belajar dan beramal saleh, usia produktif dimanfaatkan untuk berkarya dan berbagi manfaat, sementara masa tua menjadi waktu memetik hasil pengabdian. Filosofi tersebut mengajarkan pentingnya disiplin, kerja keras, dan inovasi dalam setiap tahapan kehidupan.

Kepada para dosen UMC, Saad memberikan motivasi agar terus meningkatkan kualifikasi akademik hingga jenjang doktor. Ia berbagi pengalaman perjuangannya dalam menempuh pendidikan tinggi yang penuh tantangan, namun tetap dapat diselesaikan berkat tekad dan dukungan keluarga. Menurutnya, semangat belajar sepanjang hayat menjadi modal penting bagi seorang pendidik untuk terus berkembang.

Saad juga mengingatkan bahwa setiap mahasiswa memiliki latar belakang, karakter, dan pengalaman hidup yang berbeda. Karena itu, tugas dosen bukan sekadar menyampaikan materi, tetapi menggali potensi yang dimiliki mahasiswa agar dapat berkembang secara optimal. Ia menekankan bahwa teknologi pembelajaran, seperti buku maupun presentasi digital, hanyalah alat bantu yang tidak boleh mengurangi peran utama dosen sebagai pendidik dan inspirator di ruang kelas.

Menutup materinya, Saad kembali mengajak seluruh sivitas akademika UMC untuk terus menghidupkan semangat Al-Ma’un yang diwariskan KH. Ahmad Dahlan. Menurutnya, warga Muhammadiyah tidak cukup hanya memahami ajaran Islam secara teoritis, tetapi juga harus mampu menerjemahkannya dalam tindakan nyata melalui kreativitas, kepedulian sosial, dan pengabdian kepada masyarakat. Dengan semangat tersebut, Amal Usaha Muhammadiyah diharapkan terus menjadi kekuatan yang membawa manfaat bagi umat, bangsa, dan kemanusiaan.